Breaking News

Menjual Data Nasabah, Adi Dihukum 9 Bulan Penjara

Menjual Data Nasabah, Adi Dihukum 9 Bulan Penjara
Ilustrasi (sumber: detikcom)

JAKARTA – Pengadilan Negeri Tangerang, Banten, merilis sebuah informasi penting, Senin (29/7/2019). Lewat laman resminya, Lembaga ini mengumumkan vonis penjara yang dijatuhkan kepada Adi Warnadi Ismentin (38 tahun).

Hukuman yang dijatuhkan terhadap Adi memang tergolong ringan, hanya 9 bulan penjara. Tapi kejahatan yang dilakukan pria ini tidak bisa dianggap enteng. Di pengadilan, ia terbukti menjual database nasabah bank.

Dilansir dari detikcom, Adi memulai kejahatannya dengan membuat domain www.database.org. Lewat website itu, ia menawarkan jasa penjualan nasabah perbankan, properti hingga mobil mewah.

Laki-laki ini mengoleksi data korban dari data nasabah sebelumnya. Ia juga mengumpulkan data-data dari internet. Semua data nasabah dari berbagai bank, baik bank pelat merah hingga swasta, ia kantongi. Isinya, dari nama, nomor telepon, alamat, tanggal lahir, nomor kartu dan jenis kartu.

Setelah ada yang berminat membeli, ia lalu mengirimkan CD database dan dikirim pakai jasa pengiriman. Satu keping CD dijual Rp 500 ribu hingga Rp 3 juta. Dalam setahun, ia bisa mengantongi untung Rp 60 juta lebih.

Gerak-gerik Adi tercium apparat. Ia kemudian diringkus dan diadili. Majelis hakim menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 9 bulan penjara dan denda Rp 1 miliar, apabila denda tidak dibayar maka diganti pidana 1 bulan kurungan.

Majelis menyatakan Adi telah melakukan dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum memindahkan atau mentransfer informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak berhak. Hal itu melanggar Pasal 48 ayat 2 juncto Pasal 32 ayat 2 UU ITE.

"Hal yang memberatkan perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Hal yang meringankan terdakwa belulm pernah dihukum dan bersifat sopan serta mengakui terus terang perbuatannya," ucap majelis yang diketuai M Irfan dengan anggota Syamsudin dan Roedy Suharso. 

Data di atas selaras dengan pernyataan Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh. "Banyaknya gambar KTP-el dan KK yang tersebar di Google juga menjadi celah bagi oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan," ujar Zudan.[*]

Komentar

Loading...