Breaking News

Banyak Orang tak Sholat tapi Anaknya Diantar ke TPQ, Begini Pandangan Seorang Ustadz

Banyak Orang tak Sholat tapi Anaknya Diantar ke TPQ, Begini Pandangan Seorang Ustadz
Ilustrasi (sumber foto: google.com)

KERAP kali kita mendengar kabar mengenai kaum Muslimin yang menjadi minoritas di suatu negeri dan dizalimi oleh orang kafir yang menjadi mayoritas di sana, hingga umat Islam terusir dari tanah air mereka.

Mendengar hal itu, tentu kita sebagai sesama Muslim merasa sedih atas kejadian ini. Setelah itu timbul niat dari sebagian kaum Musliminuntuk membalas kezaliman tersebut kepada kaum kafir yang berada di negeri yang kaum Muslimin jadi mayoritas di sana. 

Padahal, cara pandang seperti itu tidak dibenarkan dalam Islam. Kezaliman tidak dibalas kezaliman, bahkan wajib bersikap adil walaupun terhadap non-muslim.

Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @ceramahgusbaha, Dai kondang Gus Baha, mengatakan bahwa saat ini telah terlihat kebenaran dari teori Nabi Muhammad. Banyak preman yang tidak salat namun anaknya ikut Taman Pendidikan Alquran (TPQ), ada juga yang anaknya sudah berpuasa namun bapaknya belum berpuasa dan ada juga yang anaknya sudah bisa mengucapkan salam namun ayahnya belum bisa salam.

"Malakul Jibal (malaikat penjaga Gunung Uhud) berkata pada Rasulullah, 'Siap menghabisi orang Quraisy' terus jawab Nabi Muhammad, saya masih hafal ini di kitab Bukhari, di kitab Sahih Asallaahu an-yukhrija min aslabihim man ya'budullaaha laa yusyriku bihi syai-a. "Jangan, bagaimana pun mereka kelak bisa saja punya anak yang beriman pada Allah: Tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya," ucap Gus Baha mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, Senin (5/8/2019).

"Beneran Abu Jahal itu punya anak namanya Ikrimah, alimnya tak karuan, Ikrimah bin Abu Jahal. Top-topnya sahabat yang membela Islam namanya Khalid bin Walid. Khalid itu anaknya Walid. Walid itu mafia besar yang musuhi Nabi. Siapa yang tidak tahu Walid bin Mughirah? Abu Lahab punya putri, cantik, ikut hijrah namanya Darroh," Gus Baha menambahkan.

Oleh karena itu, kita tidak boleh sembarang membunuh orang kafir karena kemungkinan keturunan dari orang-orang tersebut adalah anak-anak yang beriman kepada Allah. Salah satu buktinya adalah Ikrimah, anak dari Abu Jahal.

Tidak semua orang kafir memusuhi kaum Muslimin. Oleh karena itu, agama Islam mengajarkan sikap yang berbeda terhadap orang-orang kafir yang memerangi kaum Muslimin dengan orang-orang kafir yang tidak memerangi.

Orang-orang kafir yang memerangi kaum Muslimin, mereka berhak mendapatkan balasan yang setimpal. Allâh Azza wa Jalla berfirman: 

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

"Dan perangilah di jalan Allâh orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (Al-Baqarah:190)

Adapun orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang berlaku adil." (Al-Mumtahanah:8)

Oleh karena itu, Islam melarang membunuh orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslimin, yaitu orang kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man. Barangsiapa membunuh orang kafir jenis ini, maka dia terkena ancaman keras yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa membunuh orang kafir mu’ahad, (maka) ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya didapati dari jarak perjalanan empat puluh tahun." (HR al-Bukhari, no. 2995)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan maksud orang kafir mu’ahad, yaitu, “Orang (kafir) yang memiliki perjanjian dengan kaum Muslimin, baik dengan membayar jizyah, perjanjian damai dari pemerintah, atau jaminan keamanan dari seorang Muslim."***

Komentar

Loading...